1st Page6:03 PM
Saturday, May 23, 2009
Dear—wait, it sounds sucks.
And gay.
Oke, aku bukan seorang laki-laki yang cengeng yang hobi menulis sesuatu di dalam bukunya dan membasahi bantal. But still, sekali-sekali mengeluarkan apa yang ada di dalam hati itu tidak selamanya buruk, kan? Jadi mungkin ide untuk sesekali bercerita tentang perasaan tidak salah...
Pertama, tentang musim panas tahun 1981 ini.
(menghela nafas)
Kematian.(terdiam, mengacak rambut)
Jujur saja, satu kata itu benar-benar bukan satu kata yang indah untuk memulai hal yang sangat suci sampai-sampai disebut liburan(holiday). Aku tidak tahu dapat berita darimana pastinya, hal selanjutnya yang kutahu adalah aku berada di depan makamnya. Rasanya menyesal setengah mati—padahal jujur saja, dipikir-pikir lagi sebenarnya tidak ada yang perlu disesalkan. Sesuai pedoman hidupku sebelumnya, kalau memang tidak bisa kumiliki—untuk apa kucintai?
Sialnya, kalimat itu tidak bisa membekukan otakku dari memikirkan sosok—ehem—
cebol—ehem—yang mengisi setengah tahunku dengan kebahagiaan. Bukannya ingin terpuruk dengan masa lalu terus, setidaknya mengenang sosoknya juga tidak apa-apa, bukan? Ia sudah mati secara raga, apabila aku melupakannya—bisa jadi ia juga mati secara jiwa, bukan? Oh well, tapi aku tidak mau terikat dengannya terus-menerus kok. Walaupun aku tidak akan pernah membubuhkan gelar 'mantan' di depan titel 'pacar'. Kami belum—dan tidak akan—putus secara resmi.
(tersenyum kecil)
Masalah
pacar yah...
(bertopang dagu)
Sebenarnya aku jadi teringat ucapanku saat masih menjabat sebagai murid Tahun Pertama. Yayaya, aku masih ingat dengan cita-cita sebagai 'pengembara gitar' yang tidak akan terpaut pada satu gadis saja, tapi mau apalagi? Gadis itu sudah keburu merebut hatiku dan...takdir tak dapat kutolak, jadinya ya aku jatuh cinta dengannya. Nah, bahkan di saat-saat kebimbangan itu—muncul satu gadis yang membuatku tergila-gila dengannya. Bahkan dari tahun lalu—aku sampai berusaha agar dia berpaling padaku. Entah usahaku sia-sia atau tidak, semoga saja tidak.
Takdir itu kejam, Dewi Fortuna kemana sih?
(menyandarkan kepala di atas meja)
Eh eh, ingat pacar sejujurnya aku langsung ingat 'itu'. Kejadian di ruang kosong—aku benar-benar tidak ingat soal itu! Tapi rasanya...mungkin tidak sih? Oke, sebaiknya dilupakan saja—sudah banyak korban berjatuhan akibat hal itu dan aku sendiri tidak mau mengingat kejadian sebenarnya berdasarkan cerita orang. Terlalu horror, bahkan cukup mendengarnya atau bahkan mengingat ceritanya aku saja sudah bergidik seram dan...mual.
(merinding)
Humn... Apa yang sebaiknya kutulis lagi ya?
(menggigit pensil)
Well, mungkin segini saja cukup untuk mula-mula. Nanti tidak ada yang bisa diceritakan di halaman berikutnya deh.
Labels: Diary/Journal, IndoHogwarts, Jose F. Dawne