2nd Page6:58 PM
Thursday, May 28, 2009
(membuka buku)
(memegang pensil dan mulai menulis)
Kemarin aku bermimpi—aku berdiri di depan cermin.
Aku melihat sosokku berdiri di sana—namun bukan sosokku yang sekarang, yang terpantul adalah sosokku saat...berapa tahun yang lalu? Yang jelas kedua mataku masih berfungsi dengan baik. Ketika aku mengangkat tanganku, sosok itu mengikutinya, membuatku semakin yakin bahwa di hadapanku hanyalah sebuah cermin. Kugerakkan tanganku untuk menyentuhnya—
—hangat.
Seketika itu juga, aku bangun.
Hal itu tidak pernah kuceritakan pada Ed ataupun pada kedua orangtuaku—mereka tidak mungkin mengerti, ini mimpiku! Mana mungkin dimengerti orang lain kalau aku saja tidak mengerti? Sepertinya aksi bungkam itu bukan suatu hal yang buruk. Buktinya mereka tidak sadar kalau aku punya masalah—kita kesampingkan Ed yang sepertinya memiliki indra keenam dalam masalah ikut campur hal-hal yang dialami olehku. Semoga saja guratan pensil ini bisa menghilangkan masalahku.
Oh iya, aku jadi ingat para juniorku. Walaupun kemunculanku agaknya memalukan, setidaknya aku puas mendapatkan satu junior yang—
ehem—seksi—
ehem—dan manis.
(berhenti menulis)
"Sudahan ah."
(menutup buku dan berjalan keluar kamar)
Kelas tiga ini belum menyenangkan selain masalah junior, walaupun aku yakin di antaranya ada junior yang menyebalkan—tapi daripada menambah masalahku lebih baik mereka tidak kupedulikan, Hogwarts terlalu lebar untuk diperhatikan satu-persatu. Lbeih baik terfokus pada beberapa orang, iya tidak? Seperti halnya junior seksi yang akan ikut Quidditch, fufufu—kalau begitu aku semakin semangat deh ikut Quidditch. Sudah ada
dia ditambah junior seksi.
...
Aku mengerti kenapa laki-laki pirang pucat itu mengataiku mesum. Mungkin sebaiknya kubuang koleksiku yang kuletakkan di rak buku baris dua dari atas, mungkin akan cukup berpengaruh pada gaya pikirku. Aku khawatir kalau
dia mungkin merasa risih.
(tiba di lapangan)
(mengambil bola basket dan melemparnya ke dalam ring)
"Ck, tidak masuk."
Well, aku memang bukan pemain basket sih, olahraga yang kuikuti hanya Quidditch. Habisnya di Hogwarts juga jenis olahraganya tidak banyak, hanya Quidditch, Quidditch, dan Quidditch. Hanya itu saja, namun satu olahraga itu cukup merepotkan karena lumayan sering melakukan pertandingan dan apalagi kapten yang sekarang cukup iblis untuk menyuruh mereka semua lari keliling lapangan sedangkan dirinya hanya ongkang-ongkang kaki di kursi cadangan. Oh well, tidak bisa dibantah karena sang kapten termasuk pemain hebat yang bisa menempati segala posisi; Chaser, Seeker, Beater, dan juga Keeper.
Wow. All-rounder.
(melempar bola bundar oranye itu lagi)
"Masuk..."
Aku jadi kepikiran mimpiku. Sebenarnya itu apa sih? Jangan bilang itu adalah ingatan masa kecilku yang terlupakan dan sekarang membayangiku—halah, seperti cerita-cerita di layar lebar saja. Lagipula aku positif kok kalau hidupku itu biasa-biasa saja, tidak seperti mereka-mereka yang memiliki masalah. Seperti...kehancuran keluarga? Kehilangan orang tua? Kehidupanku biasa-biasa saja dan orang tuaku lengkap. Apalagi yang menghantuiku?
Jujur. Aku penasaran.
(melenggang pergi, hendak kembali ke rumah)
Labels: Diary/Journal, IndoHogwarts, Jose F. Dawne